cara menguji kualitas biji jagung pipilan
Blog

Cara Menguji Kualitas Biji Jagung Pipilan dengan Tepat

Cara menguji kualitas biji jagung pipilan perlu dilakukan agar petani mengetahui kondisi hasil panen sebelum menjual atau menyimpannya.

Pengujian sederhana bisa dilakukan melalui pengamatan langsung, pemisahan sampel, penimbangan, serta pengukuran kadar air.

Ambil sampel secara merata dan gunakan alat yang bersih agar hasil pemeriksaan tidak tercampur kotoran dari luar. Petani dapat membandingkan hasilnya dengan standar mutu yang berlaku.

1. Periksa Kondisi Biji Jagung

Ambil sampel dari beberapa bagian karung atau tumpukan, bukan hanya dari permukaan. Letakkan biji pada wadah bersih lalu amati warna, bentuk, dan baunya.

Jagung bermutu baik umumnya memiliki warna yang sesuai dengan jenisnya serta bau khas jagung. Waspadai bau apek, masam, atau busuk karena dapat menandakan kerusakan.

2. Ukur Kadar Air Jagung

Mutu jagung pipilan dipengaruhi secara mendasar oleh kadar air di dalamnya. Gunakan moisture meter pada sejumlah sampel dari berbagai titik agar hasilnya mencerminkan kondisi keseluruhan jagung.

Jangan hanya mengandalkan sentuhan atau suara saat biji dijatuhkan karena cara tersebut tidak akurat. SNI 8926:2020 mencantumkan batas kadar air yang berbeda menurut kelas mutu dan tujuan penggunaan.

Untuk jagung pipil kering pangan, batasnya berkisar 14–15 persen, sedangkan ketentuan untuk pakan dapat berbeda. Karena itu, sesuaikan hasil pengukuran dengan standar yang relevan.

3. Pisahkan Biji Jagung Rusak

Timbang sampel dengan neraca, kemudian pisahkan biji yang pecah, berubah warna, berkecambah, busuk, atau berjamur. Timbang setiap kelompok yang dipisahkan, lalu hitung persentasenya terhadap berat sampel awal.

Sebagai contoh, jika sampel berbobot 250 gram dan biji rusak mencapai 10 gram, persentase biji rusak adalah 4 persen. Catatan ini membantu menentukan kebutuhan penyortiran tambahan.

4. Hitung Kotoran dan Pecahan

Amati keberadaan pengotor seperti tanah, pasir, sisa tongkol, bagian tanaman, maupun biji komoditas lain. Setelah memisahkan benda asing dari biji jagung, timbanglah sampel utama dan kotoran tersebut secara terpisah.

Selain itu, Anda perlu mendata biji pecah karena kerusakan akibat proses pemipilan mekanis dapat menurunkan kualitas serta memperbesar risiko kerusakan selama menyimpan jagung.

Meski penggunaan mesin pemipil mampu mengefisiensikan waktu kerja, petani tetap harus mengevaluasi mutunya secara berkala. Informasi tentang pilihan alat tersedia pada halaman mesin pemipil jagung.

5. Bandingkan dengan Standar Mutu

Catat hasil pemeriksaan kadar air, biji rusak, biji pecah, dan benda asing. Jika menguji beberapa karung, tulis hasil setiap sampel agar petani dapat melihat perbedaan mutu antarbagian.

Selanjutnya, bandingkan angka tersebut dengan standar yang sesuai untuk jagung pangan atau pakan. SNI 8926:2020 membagi mutu jagung pipil kering ke dalam kelas premium, medium I, dan medium II dengan batas parameter yang berbeda.

Sebagai contoh, kelas premium untuk pangan menetapkan kadar air maksimal 14 persen, biji rusak maksimal 3 persen, biji pecah maksimal 1 persen, dan benda asing maksimal 1 persen.

Pengujian aflatoksin memerlukan laboratorium; pemeriksaan visual tidak dapat memastikan keamanannya.

6. Jaga Mutu Setelah Pengujian

Setelah pemeriksaan, bersihkan jagung dari kotoran dan keringkan kembali jika kadar airnya belum sesuai. Simpan biji dalam wadah bersih, kering, dan terlindung dari hujan, kelembapan, serta hama.

Beri jarak antara karung dan lantai atau dinding agar sirkulasi udara tetap baik. Periksa kondisi penyimpanan secara berkala dan pisahkan jagung yang menunjukkan tanda jamur atau bau tidak normal. Informasi penanganan hasil pertanian tersedia di Rumah Mesin.

Kesimpulan

Cara menguji kualitas biji jagung pipilan mencakup pemeriksaan warna dan bau, pengukuran kadar air, pemisahan biji rusak, serta penghitungan kotoran dan pecahan. Catat hasilnya dan cocokkan dengan standar mutu sesuai tujuan penggunaan.

Pemeriksaan yang teliti membantu petani menjaga kualitas, mengurangi risiko kerusakan selama penyimpanan, dan memiliki dasar yang lebih kuat saat menentukan harga jual.